Me : "Most women won't tell you what is on their mind, but the ridiculous thing is they want you to find it out. How come?, i can't read mind?! and i've never seen anyone can!"
Sheldon : (think for a moment) "unless you are Professor-X, it'll be a easy for you to read mind. Even you could kill someone only by your thoughts" (smile)
Me : (not surprised,but a little curious) "what! this is not a marvel world, even so i'll not expose my body to gamma radiation, c'mon lets stay serious here!"
sheldon : "ouch..excusme, professor-x?... gamma radiation?, is it really connected??"
me : "ok, shut up! i know it's the hulk thing!"
sheldon (finally,with his ultimate qoute): "if you spent less time thinking about women and more time concentrating on comic books, we would have much less of this embarrassing moment!" (walk away)
Suatu waktu ia datang bersama mimpi, terbangun, dan ia tetap ada diangan awan, menanyakan, tentang tanya, toh siapa peduli, ia tetap hadir disetiap mimpi, menayakan tanya, siap peduli
kali ini ia terbang mengawang-awang, ntah apapun maunya. toh siapa peduli, ia tetap bergerak sesuai hatinya, ia dapat pergi seketika sesukanya, dan siapa peduli
Lain kali ia singgah disini dipikiran, lain kali ia singgah disini, dihati,lain kali ia singgah dimana-mana, diamarah bara menyala-nyala, toh siapa yang peduli, ia adalah ia kemanapun perginya
kelak nanti ia akan datang kembali menjemput yang tertinggal, membujuk, memaksa jika enggan, kali ini ada maunya, menjemput, menjemput yang tertinggal, toh siapa peduli?
Saya sering bertanya pada diri saya apakah saya seorang sarjana Sains atau sarjana Sastra? Pertanyaan ini muncul karena saya lebih produktif mengolah kata-kata daripada persamaan Matematika. Tapi saya tidak hendak larut dalam pertanyaan aneh seperti itu. Menjadi seorang Generalis tidaklah sesuatu yang buruk. Saya yakin semua ilmu yang baik memiliki derajat yang sama.Mungkin faktor sejarah dan kegunaan pragmatis yang membuat masing-masing cabang ilmu tersebut terlihat seperti saling superior antara satu dengan yang lain, akan tetapi saya kira semuanya akan bermuara pada satu tujuan, mudah-mudahan.
Berikut saya akan mulai menuliskan beberapa puisi-puisi saya yang telah lama lahir, akan tetapi karena suatu alasan tetap mendekam dalam harddisk komputer saya. Alasan paling utama mungkin karena kisah-kisah yang saya tuliskan terlalu personal sehingga saya enggan (malu) untuk dibaca oleh orang lain. Akan tetapi, belakangan saya sering tertawa ketika membaca kembali puisi-puisi ini dan membayangkan bagaimana dahulu proses kelahirannya. Terkadang memang kita sering tertawa membayangkan hal-hal yang dahulu membuat kita bersedih sampai berurai airmata (wew..). Sekarang kita bisa berkata "betapa bodoh dan lugunya dulu saya" untuk mengenang masalah-masalah itu semua. Ya, seperti itulah perjalanan hidup, ketika kita berhadap-hadapan dengan masalah,serasa sulit dan tidak bisa untuk diselesaikan, padahal semua terlihat sederhana ketika telah dijalani.
Tema-tema yang sejalan dengan sastra modern akan mendominasi puisi-puisi ini seperti cinta, pencarian jati diri,kegelisahan, pemberontakan, dan lain sebagainya. Saya kira anda yang sudah dewasa pasti tahu seputar permasalahan anak-anak muda yang "berputar-putar". Jika ada dari anda yang merasa memiliki irisan dengan pengalaman-pengalaman saya, saya harap tidak sungkan untuk berbagi dan berdiskusi. Jika anda menganggapnya biasa-biasa saja, maka abaikan saja, karena masih begitu banyak warna :D dan terakhir saya ucapkan selamat membaca :)
Lula berkata "kakak, aku mau jadi astronot!" sedikit kaget lalu saya balik bertanya "trus, bagaimana caranya?" Dia menggeleng-gelengkan kepala dengan malu-malu. Ia tidak punya ide sama sekali bagaimana cara menjadi seorang astronout, akan tetapi ia tahu kalau ia ingin menjadi astronout, maka dengan spontan ia meneriakkannya di depan saya dan teman-temannya agar kami tahu ia benar-benar ingin menjadi seorang astronout.Sejenak saya terdiam dan kemudian berkata lagi "kalau begitu, harus banyak makan dan belajar tentunya". Lula mengangguk.
Menarik buat saya ketika seorang anak seperti lula yang baru duduk di kelas 1 SD mengutarakan suatu keinginan dengan lantang, mengutarakan sebuah cita-cita yang sedikit berbeda dari pemikiran umum. Menjadi seorang astronout adalah ide yang tidak kebanyakan anak seumuran dia miliki dan saya menganggapnya sebagai sebuah perkembangan kreativitas pemikiran seorang anak, dan saya berusaha untuk menjawabnya dengan serius. Saya harap Lula tidak terlalu kecewa dengan jawaban saya.
Saya merasa gusar malam ini, dan merasa sangat bodoh karena tak tahu apa yang saya gusarkan. Akhirnya saya simpulkan untuk pepergian sejenak keliling kota di tengah malam yang dingin ini. Ditengah jalan,saya melihat sebuah warung yang masih buka.Tampak penjaganya sedang asik bermain kartu dengan beberapa orang temannya. Akhirnya saya berhentikan sepeda motor dan membeli sebotol nescafe dan kemudian pergi lagi. Saya tidak sempat memikirkan kenapa mereka melakukan itu karena saya juga punya kegusaran lain.
Keliling kota, saya kembali disadarkan betapa indahnya kota ini, persis seperti pemikiran saya sewaktu petama kali menginjak kaki di kota ini. Lampu-lampu jembatan dan pulau kumala yang berkilauan. Ditambah lagi dengan patung lembuswana yang berdiri tegak ditengah-tengahnya. Sebenarnya saya juga tak ingin memikirkan betapa mereka membuang-buang uang sebesar 2 milyar hanya untuk "mendirikan" (mengganti patung yang lama) patung tersebut. Dengan mayoritas penduduk muslim, saya kira mereka tahu betapa Islam punya sejarah yang buruk dengan patung sejak jaman nabi Ibrahim, tapi apa peduli saya, biarkan sajalah!. Malam ini saya hanya ingin memikirkan diri saya sendiri, membayangkan kenapa saya sampai "terdampar" disini. Saya sadar sejak dulu memang saya berkeinginan terjun di dunia pendidikan, dan entah kenapa cita-cita itu terus berlanjut sampai sekarang. Maksudnya sejak lulus, saya selalu bekerja pada instansi / bidang pendidikan. Empat kali pindah kerja, empat kali pindah kota saya selalu berada pada "jalur yang benar" dunia Pendidikan. Secara idealis saya selalu berpikiran bahwa pindah-pindah tempat saya lakukan untuk melihat dunia pendidikan kita secara lebih dekat. Saya tidak ingin disamakan dengan kebanyakan alumni almamater saya yang terkenal dengan "kutu loncat".Di jawa barat yang bagi saya mewakili pulau jawa dan sekarang di kalimantan timur yang saya anggap mewakili kalimantan. Selanjutnya saya berencana untuk kembali ke tanah kelahiran, pulau sumatra.
Tapi itu secara idealis, akan tetapi pada dasarnya saya merasakan ada agenda terselubung dari alam bawah sadar saya melakukan hal demikian. Sebenarnya saya resah, dan ingin mencari sesuatu, entah apapun itu yang bisa menjelaskan banyak pertanyaan saya. Dan secara emosional saya menyimpulkan bahwa jawabannya adalah dengan "berkelana". Dengan alasan itulah saya melangkah dan disetiap kota yang saya tempati saya berusaha dekat dan dengan bersemangat mempelajari kebiasaan dan adat masyarakat setempat. Dengan begitu saya merasa semakin mengenal diri saya, dan satu persatu pertanyaan-pertanyaan saya akan terjawab.
Berpikir mendalam adalah suatu hal yang menyenangkan. Akan tetapi ia punya sisi gelap ketika pemikiran-pemikiran tanpa jawaban itu mengambang tanpa "pelampiasan". Itu! alasan utama saya terjun dalam dunia pendidikan. Menyebarkan sesuatu yang ada didalam kepala saya yang hampir meledak. Saya tidak bangga mengatakan bahwa saya lulus kuliah selama 6 tahun dengan IPK pas-pasan. Akan tetapi saya selalu berdalih bahwa saya tidak hanya belajar tentang ilmu keahlian saya. Di tahun pertama, saya beradaptasi dengan lingkungan baru, dan begitu bersemangat "memperhatikan"organisasi-oraganisasi kampus. Di tahun kedua saya tertarik kembali dengan seni, bakat (?) warisan ayah saya yang sudah cukup lama terkubur di alam bawah sadar. Di tahun ketiga dan keempat saya begitu "keranjingan" dengan puisi dan sastra, mungkin karena disitulah puncak kasmaran. Tiada hari tanpa mengolah kata dan buku Chairil Anwar, Sapardi, dan Goenawan Muhammad habis saya baca. Di tahun kelima saya tertarik dengan filsafat dan beberapa cabang ilmu Humaniora, sampai-sampai saya meluangkan waktu satu semester untuk berkuliah filasafat di Unpar bandung. Dan disemua tahun itu, selama 6 tahun saya aktif bermain catur mewakili kampus meskipun dengan kemampuan yang pas-pasan. Sebenarnya saya juga ingin mengatakan di selang-selang waktu itu, saya selalu menyempatkan waktu untuk memikirkan siapa saya?apa mau saya?dan orang seperti apa saya ini? Saya tidak punya sebuah contoh manusia yang bisa saya jadikan pedoman yang memiliki terlalu banyak minat dan kemauan. Ingin tahu ini, itu tanpa ada satupun yang bisa dijadikan pijakan. Saya begitu bingung karena dalam sejarah, orang-orang yang saya kenal seperti itu hanyalah Leonardo da Vinci dan Muhammad Saw (dan saya pikir saya tak pantas dibandingkan dengan orang-orang hebat seperti itu, bukannya bermaksud rendah diri, but i mean, look at me?!)
Seketika saya tersadar sudah melewati pusat kota,"kota yang indah" sekali lagi terngiang dalam benak saya. Saya hanya tidak rela, kota-kota, khusunya kota ini stagnan dan akhirnya mati di tangan para politisi yang hanya peduli dengan ketamakannya. Sungguh, saya tidak rela. Jika saya memikirkan, sebenarnya apa yang diinginkan manusia dalam hidup, kemakmuran?kemegahan?kekuasaan? saya pikir sebagian besar dari pada penguasa-penguasan itu sudah mendapatkannya. Lalu apalagi?Saya bertanya dalam hati "apakah mereka akan puas jika kami menyembah dan berlutut di kaki mereka dan melayani semua keinginan mereka?" Ketika penguasa, hartawan, dan teknokrat telah bersekongkol untuk menjajah rakyatnya sendiri, akan selalu ada "Musa" yang muncul dari tempat yang tidak disangka-sangka. Semoga Allah SWT akan selalu mengampuni kita, termasuk keacuhan dan "kebodohan" kita.
Gambar dari : http://g8.no/104-walking-alone-in-the-dark
cayaMu panas suci tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku di pintuMu aku mengetuk aku tidak bisa berpaling
13 November 1943
Apa yang menarik dari puisi ini? Hal pertama tentunya karena tepat pada hari ini puisi ini berulang tahun yang ke 67 nya (tepuk tangan) :D Saya juga baru tersadar karna melihat tanggalnya setelah iseng selesai membaca puisi ini. Keistimewaan yang kedua mungkin karena puisi ini ditulis oleh salah seorang pujangga terbesar yang pernah dimiliki oleh Indonesia, Chairil Anwar.
Buat saya pribadi, salah satu hal yang paling menonjol dari karya-karya Chairil Anwar adalah konsistensinya dalam menyampaikan ide. Biasanya dari satu kalimat ke kalimat lainnya saling terkait dan satu sama lain saling membantu untuk mempertegas ide dan menguatkan emosi. Oleh karena itulah mengapa dalam setiap puisinya saya dengan mudah langsung masuk kedalam penghayatan emosi hanya dengan membaca 2 atau 3 kalimat awal. Meskipun kita tahu bahwa seni dalam puisi sangat mengandalkan metafora (bahasa kiasan) untuk menyampaiakan hal-hal, akan tetapi metafora dalam puisi chairil anwar seperti menyatu dan bagian dari keseluruhan cerita. Susah untuk membedakan yang mana kiasan dan mana tidak karena kesemuanya memang bagian dari cerita yang saling bahu-membahu membentuk sebuah ide yang ingin disampaikan.
Oleh karena itulah mengapa hampir semua puisi-puisi chairil merupakan pelampiasan emosi yang sangat besar dari si pengarang, dan untuk mendukung teknik seperti ini, maka tema-tema yang diambil haruslah tema-tema yang impulsif, misalkan tentang cinta atau kematian, yang merupakan tema umum dalam puisi chairil anwar. Atau mungkin urutannya terbalik, karena Chairil mengambil tema-tema puisinya yang bersifat impulsif, maka kalimat-kalimat dalam puisinya saling bahu membahu untuk menguatkan ide cerita.
Entah seperti apa dan bagaimana pun itu, pada dasarnya saya ingin membuat sebuah bahasan tentang puisi “Doa” ini, karena dari pemilihan tema, saya anggap sebagai puisi anomali dari seorang Chairil Anwar. Puisi-puisi Chairil yang selama ini begitu “egois” dan Chairil sentris, tiba-tiba membuka diri kepada sesuatu yang transenden, dan ini menegaskan bahwa Chairil selama ini adalah seorang pemuja (Tuhan) rahasia.
............
Tuhanku Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
...............
Tapi karna sudah malam dan masih banyak kerjaan, tulisan ini saya tunda dulu di lain waktu ya, hihihi..jadi intinya hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada puisi “Doa” Chairil Anwar :D