<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=29125597&amp;blogName=Holistic+view+to+the+Equilibrium+state&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLACK&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fcarokann.blogspot.com%2Fsearch&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fcarokann.blogspot.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

Hijr Ismail

Thursday, September 24, 2009 by ismansyah

Hijr Ismail adalah tempat Ismail dibesarkan. Rumah Hajar ada disana , sedangkan makamnya terletak dekat tiang ketiga Ka’bah.

Alangkah ajaibnya, tidak seorang manusia atau nabi boleh dimakamkan di dalam masjid. Tetapi disini, rumah seorang hamba wanita hitam terletak bersebelahan dengan rumah Allah. Disinilah makam Hajar, ibunda Ismail. Ka’bah meluas ke area makamnya. Dengan kata lain, rumah Allah mengarah ke roknya Hajar, ke pangkuannya. Antara Hijr Ismail dan Ka’bah ada suatu gang kecil. Waktu melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah, Allah menitahkan kita, demi makbulnya ibadah haji kita, untuk mengitari Hijr Ismail (kita tidak boleh melintasi gang itu).

Ketika melakukan tawaf mengitari Ka’bah, maka seorang penganut Tauhid yang merasa terpanggil untuk menunaikan ibadah haji memenuhi undangan Allah harus menyentuh Hijr Ismail. Makam Hajar, seorang sahaya wanita hitam Afrika dan seorang ibu yang baik, kini merupakan bagian dari Ka’bah. Orang akan selalu bertawaf mengitarinya.

Allah adalah Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Mulia, dan Maha Esa. Dia tidak memerlukan seseorang ataupun sesuatu. Namun, dari sekian makhluk-Nya yang banyak tak terbilang, telah dipilih satu yang paling mulia dari semuanya, yaitu manusia.

Dari semua manusia telah dipilih seorang wanita.

Dari semua wanita telah dipilih seorang hamba.

Dan dari semua hamba telah dipilih seorang sahaya wanita hitam.

Makhluk-Nya yang paling lemah dan paling hina telah mendapat tempat di sisi-Nya, telah mendapat ruang di dalam rumah-Nya. Dia telah berkunjung kerumahnya dan menjadi tetangganya, bahkan menjadi rekan sekamarnya. Jadi ada dua, yaitu Allah dan Hajar, di bawah naungan rumah ini. Demikianlah dalam masyarakat Islam, yang terpilih adalah prajurit tak dikenal.

Dari buku “Haji” Ali Syari’ati

Sajak-Sajak Empat Seuntai, Sapardi Djoko Damono (My ultimate)

Sunday, August 30, 2009 by ismansyah




Saya lihat beberapa teman telah memulai menuliskan apresiasi tentang puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Saya kira ada baiknya saya turut juga meramaikan bursa apresiasi ini guna melestarikan sastra yang kita punya agar kelak jika dicuri orang, kita “benar-benar” merasarakan kehilangan.

SAJAK-SAJA EMPAT SEUNTAI
/1/
kukirim padamu beberapa patah kata
yang sudah langka....
jika suatu hari nanti mereka mencapaimu,
rahasiakan, sia-sia saja memahamiku.
/2/
ruangan yang ada dalam sepatah kata
ternyata mirip rumah kita:
ada gambar, bunyi, dan gerak-gerik di sana -
hanya saja kita diharamkan menafsirkannya.
/3/
bagi yang masih percaya pada kata:
diam pusat gejolaknya, padam inti kobarnya -
tapi kapan kita pernah memahami laut ?
memahami api yang tak hendak surut ?
/4/
apakah yang kita dapatkan di luar kata :
taman bunga ? ruang angkasa ?
d taman, begitu banyak yang tak tersampaikan
di angkasa, begitu hakiki makna kehampaan.
/5/
apa lagi yang bisa ditahan ? beberapa kata
bersikeras menerobos batas kenyataan -
setelah mencapai seberang, masihkah bermakna,
bagimu, segala yang ingin kusampaikan ?
/6/
dalam setiap kata yang kaubaca selalu ada
huruf yang hilang -
kelak kau pasti akan kembali menemukannya
di sela-sela kenangan penuh ilalang.
(Sapardi, 1989)


Puisi diatas saya dapatkan dalam buku “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono. Beberapa puisi terbaik (menurut saya) dalam buku ini saya berikan ilustrasi bentuk dan warna tersendiri dalam pikiran saya agar saya mudah untuk mengenangnya. Misalkan Sajak ”Aku ingin” saya gambarkan dengan warna Orange-Kemerahan. Sajak ”Hujan Bulan Juni” saya beri perpaduan yang tidak baur antara Hijau dan Biru, dan begitu seterusnya. Saya tidak mampu menjelaskan atas dasar apa saya mengasosiasikan sajak-sajak tersebut dengan warna tertentu, akan tetapi saya meresapi setiap lirik dan bunyi yang dihasilkan dan memberikan kesimpulan berdasarkan pengalaman hidup saya.

Ada cerita sedih dibalik kepemilikan saya atas buku ini. Pertama kali membelinya, meskipun tidak seperti kitab suci, buku tersebut saya jadikan sebagai buku sakti saya. Kemana-mana selalu dibawa dan setiap ada kesempatan saya membacanya ataupun membacakannya di depan teman-teman. Terkadang mereka mendengarkan tetapi lebih sering mereka menimpali dengan nada mengejek, cuek, ikut mendeklamasikan, dan lain sebagainya, dan itu yang saya harapkan.

Kemudian tak berapa lama buku itu hilang oleh karena saya lupa atau seperti apa detailnya saya tidak tahu. Maka saya meringankan kaki saya untuk beranjak ke Gramedia dan membelinya kembali dengan harga 22 ribu. (Pertama kali membeli harganya 15 ribu). Lalu beberapa bulan di tangan saya, buku itu hilang lagi dan saya meringankan kaki lagi untuk membelinya. Saya lupa berapa harga untuk pembelian ketiga kali ini. Akan tetapi sialnya, buku itu hilang juga dan saya berpikiran saya tidak berjodoh dengan buku bersampul hitam itu. Maka untuk yang keempat kalinya saya harus membeli buku itu lagi karena saya sudah menganggap buku itu bagian dari tas selempang saya yang setiap hari saya bawa-bawa. Sayangnya begitu sampai di Gramedia si teteh berkata buku itu sudah tidak ada lagi dan setelah melakukan pemesanan beberapa minggu, si teteh menelepon bahwa buku itu sudah tidak dicetak lagi dari penerbitnya. Merasa kepalang tanggung, akhirnya saya putuskan untuk bergerilya ke seluruh toko buku di Bandung. Saya jelajahi semua TB Gramedia di setiap mall, semua TB Gunung Agung, Palasari , bahkan sampai ke toko buku-toko buku kecil hanya untuk mencari buku tersebut. Akan tetapi tetap hasilnya nihil. Disaat terakhir itu saya punya perasaan bahwa saya tidak akan mendapatkan kembali ”kekasih” saya yang hilang tersebut.

Aniwei........
Salah satu ketertarikan terbesar saya pada puisi SDD adalah saya tidak perlu bersusah payah memeras otak untuk mengartikan kata-per-kata, kalimat-per-kalimat dari puisi beliau. Saya terbiasa menikmati puisi beliau seperti mendengarkan lagu-lagu yang lembut. Kemudian melayangkan imajinasi ke dalam ruang-ruang yang alami dan serba hijau dan biru (Tumbuhan dan Air). Itu dugaan pertama saya. Dugaan kedua saya sedikit mirip dengan yang pertama. SDD menggunakan logika-logika sederhana dalam puisinya, kebanyakan adalah imajinasi dan penghayatan akan puisi. Dan ada dugaan versi ketiga yaitu ia membiarkan kita mengapresiasi puisinya seperti apa keinginan kita (sederhana dan butuh penghayatan) agar tidak membingungkan apresiator. Akan tetapi dibalik itu beliau punya makna tersendiri yang jauh lebih dalam (yang dinyatakan dalam bentuk simbol-simbol dan merupakan reaksi alami seorang pujangga atas realitas masyarakat, terutama sosial-politik) daripada anggapan kita. Mari berandai-andai.

Dalam ucapan belasungkawa atas kematian Alm.WS Rendra, saya sempat membaca ”kata setuju” beliau atas kalimat Alm Rendra yang kurang lebih seperti ini isinya ”Sajak harus keluar dari kompleksitasnya agar pena lebih tajam dari pedang bisa bermakna”. Komentar ini saya tanggapi dengan beragam sangkaan juga. Penafsiran saya yang paling utama adalah beliau pada dasarnya lebih menekankan keindahan sajak yang berujung pada kompleksitas kata dan penafsiran. Ini melelahkan jika kita hendak melihat sajak sebagai sarana penyampaian informasi kepada masyarakat luas, meskipun tidak bisa dipungkiri oleh setiap pujangga bahwa kompleksitas bahasa puisi adalah sebuah godaan yang sangat sulit untuk dihindari. Kompleksitas bahasa puisi punya daya tarik yang begitu besar yang jika berlebihan mampu membuatnya menjadi seperti sebuah Mesjid yang megah tapi tanpa jemaah yang sholat didalamnya. Akan tetapi itu semua kata saya, karena apapun kata saya, kita tidak bisa mengikuti kepelikan cara berpikir seorang pujangga., apalagi untuk seukuran pujangga reformis seperti beliau.


Sebenarnya saya tidak perlu menceritakan cerita diatas, toh saya hanya hendak menceritakan tentang pengalaman pribadi saya ketika membaca ”sajak-sajak empat seuntai” ini, sesuai dengan judul yang saya buat. Akan tetapi ..ya begitulah, selalu ada reaksi emosional saya ketika mengenang Puisi-puisi SDD karena saya sudah kehilangan buku ”Hujan Bulan Juni” tersebut sampai empat kali, dan saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya kembali. So what gitchu lho? Dan memang untuk menjelaskan puisi ini saya harus menuliskan terlebih dahulu seperti apa SDD beserta puisi-puisinya dalam bayangan saya.

Reff:
Secara keseluruhan puisi-puisi SDD sangat selaras dengan aliran pikiran saya yang pada waktu itu memang sedang mengharapkan sesuatu yang baru dan segar untuk bisa dinikmati dalam mengarungi kepelikan hidup (berlebihan!). Akan tetapi ada sesuatu yang janggal yang saya temukan pada ”Sajak-sajak empat Seuntai” ini . Pertama melihat dan membacanya saya seperti tersengat aliran listrik, yang meskipun tegangannya tidak mematikan, tapi cukup untuk membuat saya berdiri kaku untuk sejenak. Sedikit ataupun sangat narsis, saya merasa pak SDD telah menuliskan puisi ini khusus untuk saya! sehingga saya mengaggapnya sebagai my ultimate(ngeri gak situ?!). Saya merasa beliau telah menuliskan puisi tersebut agar dapat saya baca dan membayangkannya mengatakan kepada saya ”nah lo..inikan yang lo alami?”Mau tidak mau puisi ini memaksa saya untuk berpikir karena menganggap isinya sangat terasosiasi dengan pengalaman hidup dan pikiran. Dengan kata lain puisi ini mampu memaksa saya untuk keluar dari frame berpikir umum dalam mengapresiasi puisi SDD.

Dalam mengapresiasi puisi ini, saya harus mengartikannya secara detail dengan memaknai kata-per-kata, kalimat-per-kalimat, lalu keutuhannya dalam satu paragraf dan hubungannya dengan paragraf berikutnya, Tidak cukup sampai situ saya harus membacanya berulang-ulang, (bukan sebuah keterpaksaan untuk mengartikan sebuah puisi, hanya saya merasa terhipnotis oleh puisi ini) mengira-ngira dimana letak tanda jeda yang cocok, berupaya menyelaraskan bunyi sampai hal-hal lainnya juga harus dideklamasikan secara sempurna. Dan akhirnya .......saya kira saya mendapatkan gambaran yang utuh dalam sebuah bentuk sajak yang sangat kontemplatif.

Tema yang diceritakan dalam puisi ini adalah tema yang sangat mendasar, yang membuatnya berbeda dengan puisi-puisi lain. Adalah sebuah usaha pencarian yang lelah seorang anak manusia. Pencarian yang belum selesai akan tetapi harus tunduk pada ketidaksempurnaan jua. Ada penerimaan akan keterbatasan, dimana sang waktu jualah yang menjawab semua pertanyaan. Jika waktu tidak menjawab, maka ia akan memberikan pemahaman-pemahaman yang setidaknya melegakan.

Ini interpretasi saya jika dipaksa harus menuliskannya dalam kalimat singkat,padat dan jika saya anggap SDD menulis puisi ini buat saya :p. Akan tetapi pada kenyataannya kan tidak, jadi saya harap saya mampu meihat puisi ini dalam horizon yang lebih lebar. Dan memang pada akhirnya saya harus katakan, bahwa saya tidak bisa mengapresiaasi puisi ini dalam bentuk uraian kata-kata, karena kata yang saya punya sangatlah terbatas. Akhirnya saya harus tetap kembali pada frame berpikir awal saya dalam mengapresiasi puisi SDD bahwa puisi-puisi beliau tidak terlalu perlu untuk diartikan, akan tetapi puisinya butuh penghayatan. Penghayatan yang akhirnya menghasilkan warna, bentuk, penjalaran-penjalaran ke berbagai persoalan dan bidang kehidupan dan menghasilkan beragam makna yang tak pernah selesai. Disitulah letak kedahsyatan puisi saat anda menemukan makna baru setiap kali membacanya. Karena jika saya mengambil kata-kata beliau lagi kurang lebih intinya seperti ini ”jika makna puisi telah didapat, maka riwayat puisi tamat” Semoga Hari Anda Menyenangkan :D


“Tipu-tipu Bekmen”

Saturday, July 11, 2009 by ismansyah


Ketika saya masih duduk di bangku SMA, saya senang sekali menonton orang bermain catur di warung kopi. Suatu ketika seorang kakek yang sedang bermain catur bernyanyi setengah berteriak “i love u so nindu man bangku*” (sambil memejamkan mata dan menggelengkan-gelengkan kepalanya). Tidak ada yang tertawa pada saat itu. Hanya saya dan seorang teman yang tertawa lebar. Akan tetapi semua orang tahu ia bersenandung karena ia dalam posisi unggul. Dan semua orang juga tahu kalau mereka juga akan melakukan hal yang sama.

"Tipu-tipu Bekmen" adalah sebuah istilah dalam PERCAMA (Persatuan catur Mahasiswa) untuk menyatakan trik culun, sangat ketahuan, yang digunakan untuk memperangkap lawan dalam bermain catur. Asal katanya adalah tipu-tipu Batman, kemudian diplesetkan karena perubahan pelafadzan Batman menjadi Bekmen dianggap mampu memberikan sensasi konyol dan
katro’ di telinga.

Sebenarnya banyak kosa-kata (baca:igauan) yang terlahir di PERCAMA akan tetapi tidak pernah ada langkah serius yang diambil untuk mendokumentasikannya ke dalam sebuah buku (wkwkwkoko). Semuanya hanya mengalir begitu saja dalam permaian-permainan catur, terlahir kemudian mati digantikan “igauan-igauan” yang baru. Sewaktu saya masih baru di organisasi ini, ada sebuah plesetan lagu yang sering dinyanyikan para senior dan sampai sekarang masih melekat di benak saya. Lagu “Cicak-cicak di dinding” diplesetkan menjadi seperti ini :
“Tutsnak-tutsnak di dinding, diam-diam merajap...”. Saya sendiri tidak tahu bagaimana asal lagu itu muncul dan tak seorang pun yang benar-benar tahu apa arti tutsnak. Akan tetapi, ketika sedang bermain catur, tidak ada kejanggalan, keanehan, apalagi larangan untuk menyanyikan lagu-lagu Gazebo (Gak jelas Banget Bok!) semacam ini.

Pada dasarnya ini adalah bentuk “igauan”, sering kali muncul ketika seseorang sedang bermain catur dan biasanya ketika sedang berada diatas angin. “Igauan-igauan” ini saya anggap sebagai sebuah ekspresi emosional seorang pemain yang keluar secara spontan (sering kali blak-blakan) dan dihasilkan secara simultan melalui sebuah proses
multiple thinking. Bayangkan saja sebuah kosa kata aneh yang sama sekali baru muncul bersamaan dengan melangkahkan buah catur secara mantap. Apalagi jika langkah itu adalah sebuah langkah kemenangan (yang dengan itu ia unggul ruang, atau unggul perkembangan, atau unggul pion, atau unggul perwira, atau malahan men check-mate raja lawan). Maka “igauan-igauan” semacam ini akan nikmat sekali ketika diucapkan.

Sepengetahuan saya ini terjadi bukan hanya di PERCAMA akan tetapi ‘igauan-igauan” semacam ini adalah budaya khas pecatur Indonesia. Meskipun berada dalam sebuah pertandingan formal, akan tetapi jika bukan sebuah partai resmi, “igauan-igauan” ini selalu menghiasi kemeriahan permainan catur.(Mungkin karena dunia percaturan kita tumbuh dan berkembang dari jalanan, tempat nongkrong, ataupun warung kopi). Biasanya “igauan” ini dikomunikasikan secara bergantian. Misalkan jika pemain hitam sedang unggul, maka ia akan “bersenandung”. Akan tetapi jika nantinya pemain putih yang unggul maka gantian pemain putih yang “bersenandung rindu” dan pemain hitam terdiam. Bahkan dalam pertandingan resmi sekalipun “igauan” ini sesekali muncul tanpa disengaja (karena pada dasarnya ‘igauan” ini juga muncul secara tidak sengaja, tidak direncanakan) oleh para pemain apakah itu pemain pemula ataupun bergelar Master nasional/internasional sekalipun. Rasa-rasanya tanpa “igauan-igauan”, permaian catur serasa hambar dan menjadi catur bisu.


* Nindu man bangku --> Adalah bahasa Batak Karo yang artinya “kau katakan kepadaku”.


Wednesday, July 01, 2009 by ismansyah

Karen Armstrong
MUHAMMAD, Prophet for our time


Buku yang menarik menurut saya karena selama ini saya hanya membaca narasi tentang nabi saya melalu pengarang-pengarang yang beragama Islam dan setelah baca selama 5 hari, ternyata ada sesuatu yang terlihat berbeda dibandingkan dengan biografi Muhammad dari buku-buku yang pernah saya baca sebelumnya. Buku ini luput memberikan gambaran sosok seorang Muhammad sebagai seorang nabi seperti dalam buku-buku yang pernah kita baca dahulu (yang seharusnya memang tidak kita harapkan dari seorang penulis yang bukan muslim). Beliau hanya mampu menggambarkan sosok Nabi Muhammad sebagai seorang pemimpin yang serba bisa yang berhasil melakukan transformasi budaya, sosial, dan politik di tanah arab. Kesan keagungan, elegan, kejeniusan spiritual, kesucian, kemulian seorang nabi, dan hal lain yang mungkin bersifat lebih abstrak tidak mampu ditampilkan (atau memang disengaja untuk memperlihatkan kesan objektif kepada pasar utama yaitu masyarakat barat).


Akan tetapi pada topik lain Karen Armstrong sudah begitu bagus terutama dalam motif utamanya untuk menjembatani jurang antara barat dengan negeri-negeri islam. Secara umum ia banyak memberikan penekanan pada narasi yang berhubungan dengan propaganda-propaganda populis yang beredar di barat. Misalkan menjelaskan secara kontekstual bahwa perang yang dipimpin oleh nabi Muhammad sangatlah wajar dan memiliki alasan logis yang kuat. Dalam buku ini setiap saat ia berusaha memperlihatkan kepada kita bahwa agama-agama samawi berasal dari Tuhan yang sama dan tidak memiliki perseteruan yang berarti atas motif idiologi.


Ia begitu piawai dalam menarasikan permasalahan gender dalam Islam pada masa kehidupan rasul yang sebelumnya peran wanita begitu inferior (bahkan tertindas) dalam budaya arab pra-Islam. Kemudian dengan analisa latar belakang kebudayaan arab juga, ia menjawab masalah poligami nabi yang sering kali dijadikan propaganda populis di negeri-negeri barat. Beberapa kalimatnya saya kutip dibawah ini :


Pada periode pra-islam, seorang perempuan tidak punya hak milik atas apapun. Setiap kekayaan yang datang kepadanya menjadi milik keluarga dan dikelola oleh saudara lelakinya.(hal 230)


Secara tradisional, perempuan dipandang sebagai bagian dari harta milik lelaki. Setelah kematian lelaki, para istri dan anak perempuanya diteruskan kepada ahli waris lelakinya, yang sering membiarkan mereka tetap tak menikah dan miskin agar dapat mengendalikan harta warisan mereka. (hal 230)


dan menarik, setelah memaparkan latar belakang, ia memasukkan kutipan interpretasi Al'Quran pengarang lain tentang poligami tersebut :


Institusi poligami dalam Al'Quran merupakan sebentuk legislasi sosial. Ini dirancang bukan untuk memenuhi selera seksual kaum lelaki, melainkan untuk meluruskan ketidakadilan yang ditimpakan pada janda, anak yatim, dan tanggungan perempuan lainnya yang amat rentan.(Mernissi,Women and Islam 162-3;Ahmed, Women and Gender in Islam,53)


dan ia menambahkan :


Al'Quran sedang berupaya memberi kaum perempuan status hukum yang tidak akan dinikmati oleh sebagian besar perempuan barat hingga abad kesembilan belas. Emansipasi wanita merupakan proyek yang dekat di hati nabi, tetapi mendapat tantangan keras dari banyak lelaki di dalam ummah, termasuk beberapa sahabat terdekatnya. Dalam masyarakat yang serba kekurangan, perlu keberanian dan bela rasa untuk mengambil tanggungjawab finansial atas empat permpuan dan anak-anaknya. (hal 231)


Suatu paparan yang sangat jelas yang saya kira dapat meluruskan paradigma negatif masyarakat tentang poligami dalam Al’Quran.


Selebihnya buku ini bercerita apa adanya dari sumber yang beliau dapat dan saya kira sebelum membacaranya sangat dianjurkan, terutama anda yang dominan otak kanan, untuk membaca kata pengantar (Jalaluddin Rakhmat) yang merupakan pedoman yang membimbing dalam membaca buku ini.


Terakhir saya ucapkan terima kasih kepada ibu karen Armstrong yang telah menulis buku ini dengan susah payah dan berusaha mendamaikan perseteruan yang mungkin tidak akan pernah selesai sampai akhir zaman. Saya mengutip kata-kata Jalaluddin Rachmat :

Akhirnya kita patut memberikan apresiasi kepada Armstrong, yang tidak henti-hentinya mengajak barat untuk memahami Islam dan mengajak umat Islam untuk memahami barat.


Dan saya juga mengutip kata-kata beliau sebagai penutup:

"Jika kita ingin menghindari kehancuran, dunia Muslim dan barat mesti belajar bukan hanya untuk bertoleransi, melainkan juga saling mengapresiasi. Titik berangkat yang baik adalah dari sosok Muhammad: seorang manusia yang kompleks, yang menolak kategorisasi dangkal yang didorong oleh idiologi, yang terkadang melakukan hal yang sulit atau mustahil kita terima, tetapi memiliki kegeniusan luar biasa dan mendirikan sebuah agama dan tradisi budaya yang didasarkan bukan pada pedang, melainkan pada namanya 'islam',berarti perdamaian dan kerukunan"


Gambar : http://digibookgallery.co/buku/cover%20depan%20muhammad%20prophet.jpg

Labels:

Haruskah menyepi dan sendiri?

by ismansyah


Serapuh itu kah kita dalam kesendirian?. Dan kita sering mengeluh akan sebuah keterasingan yang mapan (seolah-lah terorganisasi untuk mencampakkan kita dari ikatan-ikatan). SEBENARNYA, masing-masing kita adalah sendiri!, terisolasi dalam pikiran dan ikatan-ikatan masyarakat kita, hanya saja merasa nyaman dengan itu semua.


Kesendirian, keterasingan adalah purbasangka atas pelarian dari lingkungan sosial yang mapan dan tidak kuasa untuk dielakkan. Saat merasa nyaman, kita mengangapnya sebagai sebuah keniscayaan. Akan tetapi efek ikatan-ikatan sosial, paradigma arus utama pada masyarakat sering kali sangat melelahkan untuk ditanggapi dan pada keadaan inilah ia menjadi sebuah kesendirian, keterasingan di keramaian.

Alih-alih menelurkan saran yang konstruktif, kita sendiri yang akan dihantam, tercerabut oleh badai iklan yang tak berperasaan. Dengan semangat kapitalismenya, ia hendak mencengkram dunia, dan siapa yang hendak menolak "kenyamanan hidup?"(Sebuah kejahatan yang sangat lembut, sudah lama dipraktekkan dan tidak banyak yang tahu. Hanya segelintir orang yang peka, gemetar bibirnya, dan menetes air matanya mendengarkan lagu Indonesia Raya dikumandangkan)

Kejahatan-kejahatan ini terus berlanjut, tanpa disadari dari waktu ke waktu karena masing-masing kita tidak mau tahu apalagi ambil bagian. Kita malah ikut merayakan, sadar atau tidak sadar, dan seperti kata-kata terdahulu, kebodohan, ketidaksadaran berasosiasi dengan mabuk dan "haram" hukumnya dalam konteks ini.

Kita menghendaki suatu masyarakat yang sekuler, tidak mencampurkan kehidupan pribadi dan masyarakat yang kita anggap berada pada panjang gelombang yang berbeda, maka tidak bisa di-superposisi-kan (dan ini terbantahkan oleh fisika), apalagi dibandingkan. Kita bisa merasa sangat peka saat melihat penderitaan rakyat akibat gempa, menitikkan air mata, lalu kembali beristirahat di hotel bintang lima. Lalu kita semua, orang-orang mapan lainnya berjanji akan membantu petani, orang miskin (jika terpilih nanti), dan disaat yang sama kita bergelimang harta dan menghambur-hamburkan uang untuk dana kampanye yang aku tegaskan! tak berguna!(memang selalu butuh biaya untuk belajar, katakanlah itu sebuah pembelajaran demokrasi, tapi bukan cara belajar seperti ini yang kita harapkan). Terjadi pemisahan-pemisahan disini. Potongan-potongan waktu, potongan-potongan kejadian yang saling lepas dan diskrit yang kita anggap tidak saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Ini memang contoh sederhana yang tiap hari terlihat, akan tetapi terluput dari perhatian kita yang mungkin telah mendefenisikan kepedulian dengan cara yang sama sekali berbeda (satu bentuk evolusi psikologi masyarakat yang berbahaya). Ada paradoks kompleks pada keadaan seperti ini. Di abad teknologi yang bumi terlihat semakin kecil, jarak semakin pendek, dan dunia semakin datar, akan tetapi manusia semakin terkotak-kotakkan. Manusia-manusia semakin terasingkan padahal berita kemalangan sudah begitu nyaring di telinga kita. Berita ketidakadilan selalu beredar dimana-mana dan Izrail bukanlah tamu yang asing yang "menjemput" banyak saudara kita dengan cara yang seharusnya kita anggap tidak biasa. Pada titik ini bumi tiba-tiba mengembang seperti alam semesta dan seolah-olah setiap manusia terpisah sejauh jarak galaksi yang berbeda dan semakin jauh setiap waktunya. Tangisan anak-anak disana menjadi perhatian kita dan kita merasa inferior untuk melakukan apa-apa. Hanya dalam wacana untuk kepentingan-kepentingan pragmatis (seperti apa yang sedang dilakukan penulis sekarang ini :( , hanya saja ia tak mengharapkan apa-apa dari tulisan ini)

Padahal kita sudah sama-sama tahu bahwa setiap orang di sudut negeri ini percaya keadaan kita sudah sangat kompleks dan susah untuk ditangani maka jangan menjanjikan apa-apa jika ragu-ragu untuk menepati. Pada dasarnya kami hanya ingin melihat satu bentuk kejujuran yang terdalam yang orang paling bejat sekalipun dapat melihatnya. Bentuk kejujuran yang berani dan khidmat, katakan yang benar, mengaku salah jika salah. Kami sadar, dan tidak akan memaksakan bentuk kejujuran sempurna yang diperlihatkan oleh Muhammad dahulu (yang membuat orang Jahiliah arab pra-Islam sekalipun menjulukinya sebagai "orang yang dapat dipercaya") karena semua orang tahu asal-usul dan track-record saudara-saudara sekalian. Dan kami sama sekali tidak mengharapkan bentuk pembelaan, omong kosong masa lalu, apalagi pembodohan rakyat yang merupakan kesalahan yang "tidak bisa dimaafkan".

Dan kami rakyat memang hanya bisa berkomentar saja, benar sekali. Cuap-cuap melihat semua ketidakberesan ini. Kami tahu bahwa kami juga kerap kali ingkar janji, mungkin karena alasan itulah kami tidak mencalonkan diri untuk menjadi apa-apa.

..........

Maka di Saat-saat genting seperti ini, keterasingan adalah salah satu jawaban, meskipun tidak selalu menjadi solusi terbaik, setidaknya bisa menjaga pikiran tetap steril dari campuran berbagai informasi yang dipaksakan. (kita setiap saat disuapi dengan berbagai kata-kata, paradigma, doktrin, dan informasi-informasi lain yang tidak bertaggung jawab dan pada suatu titik jenuh kita tidak akan kuasa untuk melawannya, setidaknya berteriak mengeluarkan umpatan yang tentu juga bersifat destruktif). Saat-saat seperti ini kesendirian mudah-mudahan mampu menghadirkan sebuah sudut pandang yang sama sekali berbeda. Berlari, berlarilah dari ikatan-ikatan manusia untuk sementara. Barangkali alam adalah bentuk "hidup" yang sederhana dan mudah untuk dicerna karena ia akan selalu bersifat alami, mengikuti hukum keseimbangan. Terlahir, tua, mati. Makan, dimakan. Bergerak, mengalir dalam alur. Terprediksi dan terkendali!! tidak seperti kebebasan manusia yang kerap kali diselewengkan menjadi sebuah chaos yang tak terkendali.

Gambar : alonebymust.blogspot.com/2008/07/alone-and-ge...

Re-introduction

Wednesday, June 24, 2009 by ismansyah

Sudah cukup lama "rumah"ini tidak pernah lagi dikunjungi oleh penghuninya. Seperti vila-vila besar di lembang aja. Sesekali datang cuma buat "ngecek" atau pengisi liburan malam minggu doang, setelah itu ditinggalin lagi untuk jangka waktu yang lama. (Cuma nambah polusi cahaya dan memperkecil daerah serapan air saja)

Dulu alasannya untuk fokus Tugas Akhir (TA) meskipun pada kenyataannya TA nya juga "agak" berantakan. Tapi Alhamdulillah selesai juga dan sudah lepas dari "beban" kampus :P Tapi memang kebiasaan menulis harus dibiasakan secara kontinu karena kalau tidak ritmenya jadi terganggu. Dahulu setiap apapun yang ada di kepalaku langsung dituliskan kedalam notepad. Kalau sedang tidak di depan PC yah paling tidak menulis garis besarnya di buku "sakti"(catatan kecil lusuh, berwarna biru yang selalu dibawa-bawa). Tapi sekarang karena sudah tidak dibiasakan lagi semuanya berlalu begitu saja, terekam sebentar di kepala, menjadi kerisauan sesaat, kemudian hilang dibawa angin ke laut jawa.

Saya jadi ingat kata-kata dosen pembimbing saya, "kalau tidak diprioritaskan, ya gak bakalan ada waktu terus". Dan penyakit ini juga terus mewabah kepada kebiasaan saya membaca. Sekarang ini hampir jarang sekali saya membeli buku, apalagi membaca. Kalau beli buku juga hanya baca daftar isi, kemudian bagian belakang, kata pengantar, 2-3 lembar halaman pertama, setelah itu bukunya hilang entah kemana. Saya berlagak tidak punya waktu untuk hanya sekedar membaca buku atau menulis sesuatu padahal saya menganggap kebisaan itu sangat penting.

Katakanlah menulis, paling tidak saya bisa olahraga jari di keyboard :p. Atau setidaknya berbagi sesuatu kepada "fans" (upss..teman maksudnya :p) karena saling berbagi itu penting (terutama untuk jiwa saya yang selalu resah ini :p). Karena banyak pikiran, pendapat, ocehan, gurauan, sentilan, cemoohan, sanjungan, dan lainnya yang telah saya dapatkan dari kegiatan ngeblog ini yang saya anggap menambah perbendaharaan saya tidak hanya dalam memahami lingkungan dan teman-teman saya, tapi juga yang terpenting adalah dalam memahami diri saya sendiri ( :p Secara sangat sadar saya mengetahui waktu saya banyak saya habiskan hanya untuk menjawab pertanyaan "who am i?". Sungguh tidak mudah menjawab pertanyaan sesederhana itu bagi saya karena setiap kali saya menemukan jawaban yang bisa diterima perasaan, setiap kali pula jawaban itu dimentahkan oleh logika. Kerap kali saya secara sengaja mendoktrin diri saya sendiri dan mengatakan "udahlah jalanin aja dulu, ntar jawabannya ada sendiri kok". Lalu saya berkata hal yang sama juga kepada teman-teman saya yang memiliki permasalahan serupa padahal setelah "dijalanin aja" ternyata makin banyak pertanyaan-pertanyaan yang keluar masuk tanpa pamit dan ketok pintu terlebih dahulu. Paling tidak mengucap salam, apa sih susahnya “assalamualaikum!”.  Yah begitulah tapi masalah ini tidak akan kita bahas panjang lebar pada topik re-introduction kali ini)

Dan belakangan saya sadar bahwa saya sudah mulai menunjukkan gejala keterbatasan dalam berkomunikasi secara verbal kepada orang lain. Saya tidak tahu apa penyebabnya secara pasti, sejauh yang saya analisa mungkin karena bawaan karakter saya yang lebih efektif berkomunikasi secara tulisan. Atau karena dalam komunikasi secara verbal saya lebih banyak pasif, sehingga komunikasi dua arah yang diharapakan menjadi tidak efektif. Atau mungkin juga karena saya kerap kali “tidak hadir” dalam sebuah pembicaraan, terbang mengawang-awang dan baru tersadarkan setelah disentak oleh lawan bicara. Atau sebab lain yang saya tidak tahu.

Jadi begitulah teman-teman, semua itu hanya pada masalah pembiasaan  Seharusnya tetap konsisten menyempatkan waktu untuk menulis tanpa memperhitungkan apakah itu tulisan bagus atau jelek. Yang penting adalah proses berbaginya (mendoktrin diri lagi). Insya Allah saya akan berupaya menghidupkan kembali blog ini, dan menghidupkan kembali kegiatan menulis dalam komunitas pertemanan saya sehingga kita tetap dapat belajar dan mengambi sesuatu dari hal-hal sederhana seperti ini.



Wassalam


Pimpinan Redaksi


Palestina

Thursday, January 08, 2009 by ismansyah

Aku akan mengatakan satu alasan terbaik bagimu untuk memahami masalah ini. Di abad modern ini, apakah engkau masih melihat adanya penjajahan terhadap satu bangsa? Di abad modern yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi ini apakah engkau pernah melihat satu bangsa ynag mendirikan negara diatas negara orang lain? Jika engkau tidak tahu, maka aku katakan disanalah tempatnya!

Jika mereka menghendaki perdamaian, maka mereka harus memberikan tanah-tanah mereka, ladang-ladang mereka, bahkan rumah tempat mereka bermukim. Tapi aku akan katakan yang lebih buruk daripada itu semua. Mereka akan kehilangan harga diri, hak azasi mereka sebagai manusia merdeka. Apalagi yang lebih buruk dari itu?








Dalam sejarah negara kita saja (Indonesia) kita tidak pernah mendambakan perdamaian dengan penjajah. Kita tidak ingin berbagi wilayah, karena ini adalah tanah tumpah darah kita!, jika mereka hendak berdamai, maka mereka harus angkat kaki dari negara ini, bukankah begitu? Itulah dulu yang dilakukan oleh para pejuang negara ini. Dengan keterbatasan persenjataan perang mereka melawan dengan sekuat tenaga. Tapi pada beberapa pertempuran kita tidak mampu untuk berperang secara frontal, face-to-face dengan musuh karena memang persenjataan kita jauh ketinggalan. Jendral besar Soedirman harus keluar masuk hutan, bergerilya sebagai aksi strategis dalam mengacaukan formasi musuh. Mengganggu pasukan musuh, kemudian ”lari” masuk hutan lagi, dan begitulah seterusnya. Tak-tik itu berhasil membuat musuh kelabakan, dan sayangnya masyarakat yang tidak ikut bergerilya menjadi pelampiasan. Mereka menjadi bulan-bulanan penjajah akan tetapi apakah mereka tidak faham itu? Apakah mereka akan menyalahkan Jendral Soedirman dan bala tentaranya yang tidak memikirkan nasib mereka yang dijadikan tumbal?. Dan apakah juga seorang Jendral besar dalam sejarah Indonesia tidak memikirkan nasib rakyatnya yang menjadi korban? Saya rasa kedua belah pihak masing-masing sangat mengerti resiko itu. Bahkan masyarakat tetap memberikan bantuan medis dan pangan kepada para gerilyawan. Dan seorang Jendral besar juga tahu selalu ada korban untuk sebuah perjuangan menuju kemerdekaan, menuju kebebasan, meskipun hatinya berkecambuk dan teriris-iris oleh berbagai pertentangan.

Dan pada satu kesempatan jika keadaan sudah merugikan dirinya, pihak penjajah akan menawarkan perdamaian, gencatan senjata. Tapi apakah engkau tahu idiologi apa yang dibawa oleh bangsa penjajah? Agama? bukan! Tidak ada agama yang mengajarkan penjajahan. Mereka sama sekali tidak peduli agama mereka! Mungkin sebagian besar mereka tidak percaya agama, barangkali. Mereka hanya akan memikirkan keuntungan yang mereka dapatkan, semata-mata untuk kepentingan mereka. Dari dulu sampai sekarang juga begitu, motif para penjajah adalah ekonomi, uang, pengusaan modal, dan segala hal yang berkaitan dengan kejayaan mereka sendiri. Maka pertanyaannya apakah kita akan berunding dengan mereka? ”Berunding-berunding NICA datang juga!” (Naga Bonar)

Dan kita sama-sama tahu bahwa setiap bangsa, setiap individu manusia pasti sangat mendambakan perdamaian, hidup bersama secara harmonis tanpa adanya konflik yang berarti. Tapi labih dari itu semua, setiap individu pasti lebih menghendaki adanya keadilan, karena perdamaian yang hakiki tidak akan pernah terwujud tanpa adanya keadilan! Dan karena perdamaian tanpa adanya keadilan adalah penjajahan.

Pertanyaan terakhir, apakah kita akan merestui adanya penjajahan terhadap suatu bangsa di abad modern ini? Semata-mata hanya karena ketidakpedulian kita ataupun hanya karena ketidaktahuan kita? Pada titik ini, ketidaktahuan bisa menjadi ”dosa”.


Lihatlah tanah air Palestina. Apakah manusia yang berakal bisa menerima bahwa pembunuhan terhadap orang Yahudi di Barat (Holocaust) dijadikan alasan untuk menduduki tanah air yang dimiliki orang lain dan mendirikan sebuah negara baru disana, dengan penduduk baru? Apakah tebusan bagi sebuah tragedi di Eropa (kalaupun memang itu terjadi) harus dilakukan di sebuah kawasan di timur tengah yang berjarak ribuan kilometer? Itupun dengan sebuah biaya yang besar, dengan terbunuhnya ribuan penduduk asli palestina, dengan terusirnya jutaan orang, dan dengan perusakan rumah dan ladang yang terus berlangsung selama 60 tahun.

Ahmadinejad,

UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 11 mei 2006

(Dari buku “Ahmadinejad on Palestine” Dina Sulaiman)


Rakyat Palestina tidak melakukan kejahatan apapun. Mereka tidak punya peran dalam Perang Dunia II. Mereka hidup bersama masyarakat Yahudi dan Kristen secara damai pada masa tersebut. Mereka tidak mempunyai permasalahan. Dan hari ini, umat Yahudi, Kristen, dan Muslim hidup bersaudara di seluruh dunia, di banyak benua mereka tidak mempunyai permasalahan yang serius.

Tapi apa sebabnya rakyat Palestina harus membayar semua ini; orang-orang Palestina yang tidak bersalah? Lima juta orang terus terusir dan menjadi pengusngsi selama 60 tahun – tidakkah itu suatu kejahatan? Apakah bertanya mengenai kejahatan-kejahatan ini suatu kejahatan juga? Mengapa seorang akademisi, diri saya, menghadapi hujatan ketika mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti ini? Inikah yang kalian sebut sebagai kebebasan dan menegakkan kebebasan berpikir?

Ahmadinejad di Colombia University, New York, 24 sept 2007

(Dari buku “Ahmadinejad on Palestine” Dina Sulaiman)


Gambar dari : hhttp://www.jazarah.net/blog/wp-content/images/AdsP/PalestineDyingtoLive01.jpg

Friday, November 28, 2008 by ismansyah

Seaindainya dunia seindah kata-kata
Maka aku akan berpikir untuk menjadi penyair saja